Polisi Investigasi Grup FB 'Fantasi Sedarah', DPR: Hal Ini Sangat Menggelikan!
Warta Bulukumba - Langit Jakarta masih belum terlalu terang saat notifikasi demi notifikasi meledak di layar-layar ponsel warga dunia maya. Pagi itu, media sosial dipenuhi satu nama yang terdengar menjijikkan namun membuat penasaran: Fantasi Sedarah.
Grup Facebook dengan ribuan anggota, membahas hal-hal yang tak terbayangkan tentang hubungan inses, ditulis terang-terangan.
Tak butuh waktu lama. Kecaman datang dari berbagai arah. Warganet +62 murka. Aparat kepolisian pun tak tinggal diam dan segera bereaksi.
Polisi bergerak cepat
“Kami sudah berkoordinasi dengan Direktorat Siber Polda Metro Jaya. Akan menyelidiki dan mendalami tentang akun Facebook tersebut,” tegas AKBP Reonald Simanjuntak, Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Metro Jaya, Jumat 16 Mei 2025 seperti dikutip ANTARA .
Tindakan ini dilakukan setelah penemuan yang tersebar luas tentang sebuah kelompok yang dituduh memuat materi tidak senonoh dan membahayakan. Kelompok tersebut sebenarnya harusnya tidak pernah ada tetapi sempat aktif dalam dunia maya.
Kepala Unit Siber Polda Metro Jaya, Kombes Pol Roberto Pasaribu, membenarkan bahwa kelompok tersebut telah dihapus oleh Meta.
"Grup tersebut telah dihapus atau ditangguhkan oleh penyedia FB Meta karena pelanggaran terhadap peraturan," katanya.
Tetapi kasus tidak berakhir di sana.
Koordinasi lintas lembaga
Kepolisian saat ini mengajak kerja sama dengan Meta serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) guna mengejar identitas orang-orang yang berada di belakang grup itu—termasuk baik para pemilik maupun anggota grupnya.
Roberto mengatakan bahwa kami bekerja sama dengan Meta dan Komdigi.
Tahap ini esensial untuk menentukan apakah kelompok itu hanyalah tempat dialog terdistorsi atau telah berkembangan menjadi entitas dengan aktivitas kriminal konkret.
Pemintaan DPR: "Ringkus dan Reformasi Mereka"
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, yang terkenal dengan pendapatnya mengenai kejahatan digital, secara langsung mengekspresikan pandangannya. Dia menyatakan bahwa kelompok tersebut "sangat menjijikkan" dan mendesak aparat untuk segera melakukan tindakan keras.
"Ini sungguh menyebabkan rasa jijik. Oleh karena itu, saya meminta pihak kepolisian dan Komdigi untuk menginvestigasi serta menindak pelaku-pelaku dari kelompok tidak bersih tersebut," katanya dengan keras.
Sahroni tidak hanya mengharapkan pelaksanaan hukum, tetapi juga pendekatan psikologis.
Jelas mereka memberi tempat bagi perilaku menyimpang itu. Jika kita tidak berhenti sekarang dan membiarkannya terus meluas, maka hal tersebut bisa menjadi nyata serta menimbulkan tindakan kekerasan seksual yang sangat merugikan korban.
"Mereka perlu ditelusuri dan diberi pembimbingan psikologis. Mari kita mencegah hal ini terjadi," imbuhnya.
Dunia maya kini sudah tidak aman lagi
Kasus ini jadi bukti bahwa batas antara dunia maya dan kenyataan kian tipis. Ketika ruang digital digunakan untuk hal-hal menyimpang, dampaknya bisa menjalar ke dunia nyata—dan memicu kejahatan seksual yang nyata pula.
Grup “Fantasi Sedarah” mungkin telah dihapus. Tapi jejak digitalnya belum tentu lenyap. Polisi kini berburu waktu—mengejar siapa pun yang berada di balik akun dan aktivitas mencurigakan itu.
Pemeriksaan sedang berlangsung. Kepolisian tetap mengamati kegiatan daring yang terkait dengan kelompok itu. Meta diharapkan bersikap jujur saat memberikan informasi. Komdigi dimintai untuk meningkatkan pemantauannya.
Lalu masyarakat pun bertanya, bagaimana sebuah kelompok yang memiliki ribuan anggota dapat beroperasi tanpa diketahui oleh pihak keamanan selama waktu yang cukup lama? ***